Volume perdagangan menurun di beberapa platform besar menurut data pasar

volume perdagangan menurun di beberapa platform besar menurut data pasar, menunjukkan tren penurunan aktivitas perdagangan yang signifikan.

Volume perdagangan kripto dan derivatif on-chain kembali menurun di sejumlah platform besar, menurut data pasar yang melacak perdagangan berjangka abadi (perpetual). Setelah reli yang memuncak pada Oktober 2025, aktivitas kini memasuki fase pendinginan yang lebih panjang, terlihat dari susutnya transaksi bulanan hingga penurunan volume harian yang kembali menyentuh level terendah dalam beberapa bulan.

Perubahan ini terjadi saat pelaku pasar menimbang ulang risiko leverage dan biaya transaksi, di tengah pergeseran sentimen dari spekulasi cepat ke pengelolaan risiko yang lebih ketat. Di beberapa meja perdagangan, penurunan tersebut mulai memengaruhi likuiditas dan strategi eksekusi, terutama untuk aset yang tidak berada di jajaran teratas.

Data pasar menunjukkan tren volume perdagangan DEX perpetual terus melemah

Dalam analisis pasar atas derivatif on-chain, aktivitas perdagangan berjangka abadi tercatat mendingin selama lima bulan berturut-turut sejak puncaknya pada Oktober 2025. Nilai perdagangan bulanan turun dari sekitar US$1,36 triliun pada Oktober 2025 menjadi US$699 miliar pada Maret 2026, menandai penyusutan hampir setengahnya dalam rentang kurang dari enam bulan.

Di level harian, data juga memperlihatkan pelemahan yang lebih terasa pada awal kuartal kedua. Volume harian tercatat pertama kali turun di bawah US$10 miliar pada 4 April 2026, sebuah ambang yang terakhir kali terlihat sejak September 2025. Bagi trader yang terbiasa dengan kondisi “ramai” akhir 2025, angka ini menjadi penanda bahwa tren perdagangan berbasis leverage tidak lagi mendominasi seperti sebelumnya.

Contoh perubahan perilaku terlihat dari kebiasaan eksekusi order. Seorang trader ritel yang aktif di perpetual on-chain biasanya mengandalkan pergerakan cepat dan kedalaman order book; kini, spread melebar lebih sering pada jam-jam tertentu, sehingga strategi “scalp” menjadi kurang efisien. Pada akhirnya, pendinginan ini menegaskan bahwa perubahan volume bukan sekadar fluktuasi harian, melainkan pergeseran fase pasar.

volume perdagangan menurun di beberapa platform besar menurut data pasar terbaru, menunjukkan tren penurunan aktivitas perdagangan yang signifikan.

Hyperliquid tetap dominan saat likuiditas terkonsentrasi di platform besar

Meski pasar melemah, konsentrasi transaksi justru semakin terlihat. Hyperliquid dilaporkan masih memimpin perdagangan DEX perpetual dengan volume sekitar US$185,5 miliar dalam 30 hari terakhir, setara 34% dari total 10 besar DEX perpetual yang dilacak. Di bawahnya, edgeX mencatat sekitar US$73 miliar dan Aster sekitar US$68 miliar, sementara platform yang lebih kecil seperti Lighter dan Grvt berada jauh di belakang.

Struktur ini membuat dampaknya terasa ganda: penurunan aktivitas total menekan pendapatan biaya dan insentif, tetapi aliran transaksi yang tersisa cenderung “bertahan” di pemain utama karena kedalaman pasar lebih terjaga. Di praktiknya, trader institusional maupun whale lebih memilih venue yang bisa menyerap order besar tanpa slippage berlebihan—dan itu memperkuat dominasi platform besar.

Situasi ini juga memunculkan pertanyaan operasional: ketika volume menipis, apakah kompetitor mampu mempertahankan market maker dan program insentif? Banyak proyek pernah belajar dari siklus sebelumnya bahwa likuiditas bisa cepat berpindah saat volatilitas turun. Insight kuncinya: ketika aktivitas menyusut, diferensiasi produk dan efisiensi eksekusi menjadi penentu, bukan sekadar kampanye agresif.

Perubahan dinamika ini terjadi bersamaan dengan pengetatan dan penyesuaian kebijakan di berbagai yurisdiksi yang ikut membentuk selera risiko investor. Di Asia, misalnya, perkembangan pengawasan di Korea Selatan kerap menjadi rujukan pelaku pasar regional, sebagaimana dibahas dalam laporan pengawasan kripto di Korea Selatan. Di Eropa, implementasi kerangka regulasi aset kripto juga terus menjadi latar yang memengaruhi strategi platform global, termasuk melalui pembahasan aturan MiCA di Uni Eropa.

Dampak ke investasi dan kaitannya dengan pasar saham dalam siklus risk appetite

Turunnya volume di derivatif on-chain sering dibaca sebagai melemahnya selera spekulatif, terutama dari pengguna leverage tinggi. Dalam beberapa siklus, kondisi seperti ini berjalan beriringan dengan rotasi portofolio—dari aset berisiko tinggi ke instrumen yang dianggap lebih stabil—meski keterkaitannya tidak selalu linier dari hari ke hari.

Bagi sebagian manajer investasi, sinyal yang lebih diperhatikan adalah kombinasi antara volume, volatilitas, dan biaya eksekusi. Ketika volume perdagangan menyusut, biaya implisit bisa naik meski fee terlihat sama, karena slippage dan kedalaman pasar berubah. Di sisi lain, investor yang juga memantau pasar saham sering menggunakan ukuran “risk appetite” yang serupa: saat aktivitas spekulatif turun, narasi pasar bergeser ke kehati-hatian, penguatan manajemen risiko, dan seleksi aset.

Dalam praktik, beberapa desk mengurangi ukuran posisi dan memperketat batas kerugian, bukan keluar total dari pasar. Hal ini ikut menjelaskan mengapa penurunan volume tidak otomatis berarti “kapitulasi”, melainkan fase normalisasi setelah puncak. Pertanyaannya kini: apakah pasar akan menemukan katalis baru untuk meningkatkan aktivitas, atau justru memasuki periode stabil yang lebih panjang?

Yang terlihat jelas dari rangkaian data terbaru: aktivitas perpetual on-chain tengah mencari titik keseimbangan baru. Ketika tren perdagangan melambat dan perubahan volume bertahan beberapa bulan, perhatian pelaku pasar beralih dari euforia pertumbuhan ke kualitas likuiditas, ketahanan platform, serta dampak regulasi lintas negara yang terus membentuk arah industri.