Hizbullah menyatakan Israel kembali melancarkan serangan di beberapa wilayah Lebanon selatan, di tengah gencatan senjata yang masih rapuh. Pernyataan itu muncul ketika militer Israel (IDF) menuduh Hizbullah lebih dulu melanggar kesepakatan dengan menembakkan rudal ke pasukan Israel yang bertugas di Lebanon selatan dan ke wilayah Israel pada Selasa, 21 April. Meski IDF menyebut serangan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, insiden ini menambah tekanan pada jeda 10 hari yang disepakati Israel dan Lebanon pada 16 April melalui mediasi Amerika Serikat, sekaligus menjelang rencana perundingan lanjutan di AS pada 23 April waktu setempat. Di lapangan, laporan serangan drone dan gelombang gempuran beberapa bulan sebelumnya memperlihatkan betapa cepatnya konflik dapat kembali meningkat, dengan dampak langsung pada keamanan warga di zona perbatasan.
Hizbullah menyoroti serangan Israel di wilayah Lebanon selatan saat gencatan senjata diperdebatkan
Versi peristiwa dari kedua pihak kembali berseberangan. IDF, seperti dikutip media Israel, menyatakan Hizbullah telah melakukan pelanggaran “terang-terangan” terhadap gencatan senjata setelah menembakkan rudal ke pasukan Israel di Lebanon selatan dan juga ke wilayah Israel pada 21 April.
Dalam penjelasannya, militer Israel menyebut tidak ada korban jiwa, serta mengklaim berhasil menghancurkan peluncur rudal Hizbullah beberapa menit setelah tembakan dilakukan. Di sisi lain, Hizbullah mengakui bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menggambarkannya sebagai respons atas tindakan Israel yang disebut telah melanggar kesepakatan berulang kali.
Hizbullah juga menyatakan serangan diarahkan ke pasukan Israel di area perbatasan, termasuk kawasan Kfar Giladi. Klaim saling serang ini membuat wilayah selatan kembali berada dalam pola eskalasi cepat: serangan, bantahan, lalu operasi balasan yang biasanya terjadi dalam hitungan jam.

“Lebih dari 200 pelanggaran” dan perang narasi tentang keamanan perbatasan
Dalam pernyataannya, Hizbullah menyebut Israel telah melakukan lebih dari 200 pelanggaran gencatan senjata sejak kesepakatan disetujui. Angka itu dipakai untuk menegaskan bahwa serangan yang mereka lakukan dianggap sebagai tindakan membela diri, bukan upaya membuka perang lebih luas.
Bagi IDF, narasi yang dibangun adalah sebaliknya: peluncuran rudal menjadi bukti bahwa Hizbullah tetap memiliki kemampuan dan kemauan menyerang, sehingga operasi balasan diposisikan sebagai langkah menjaga keamanan. Di tengah konflik yang dipenuhi klaim sepihak, perbedaan versi ini kerap menjadi pemantik baru di lapangan, karena masing-masing pihak merasa memiliki dasar untuk meningkatkan operasi di wilayah selatan.
Serangan Israel di selatan Lebanon dalam beberapa bulan terakhir menekan stabilitas gencatan senjata
Ketegangan terbaru datang setelah rangkaian serangan Israel yang sudah terjadi dalam periode gencatan senjata sebelumnya. Pada 12 Januari, kantor berita Lebanon NNA—dikutip Anadolu—melaporkan serangan drone Israel yang menarget sepeda motor di sekitar Tyre dan Siddiqin, melukai pengendaranya. Insiden itu disebut sebagai bagian dari serangan beberapa hari berturut-turut.
Sehari sebelumnya, pada 11 Januari, Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan satu orang tewas dalam serangan di Bent Jbeil. NNA juga melaporkan gempuran di Kfar Hatta, utara Sungai Litani, dengan sedikitnya 10 serangan pada hari yang sama.
Militer Israel menyatakan serangan-serangan itu menarget kombatan serta infrastruktur Hizbullah, dan dikaitkan dengan apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran berkelanjutan. Namun bagi warga lokal, rangkaian ini kembali memunculkan pertanyaan yang sama: seberapa jauh gencatan senjata bisa menahan dinamika perang ketika operasi udara masih terjadi?
Pasukan Israel masih bersiaga dan laporan UNIFIL soal perubahan di Blue Line
Di tengah kewajiban penarikan pasukan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada November 2024, pasukan Israel disebut masih bersiaga di lima titik di Lebanon selatan. Situasi ini memperpanjang ketegangan di area perbatasan yang sejak lama sensitif, sekaligus membentuk realitas baru bagi komunitas yang bergantung pada akses lahan dan mobilitas harian.
Laporan teknis Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) untuk periode Oktober–November 2025 mencatat pembangunan dinding beton di sekitar Yaroun, Aytaroun, dan Maroun ar Ras. Menurut laporan itu, struktur tersebut berada di kawasan Blue Line dan membatasi sekitar 4.000 meter persegi lahan Lebanon sehingga tidak bisa diakses warga.
Di lapangan, detail semacam ini sering menjadi persoalan konkret yang mempengaruhi rasa aman, karena pergeseran akses tanah dan infrastruktur dapat mengubah rutinitas warga sekaligus meningkatkan friksi dengan pasukan yang berjaga.
Gencatan senjata 10 hari dan negosiasi tahap kedua di AS menjadi ujian arah konflik Israel Lebanon
Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata 10 hari pada 16 April, setelah perundingan yang berlangsung pada 14 April di Amerika Serikat dengan AS berperan sebagai mediator. Kesepakatan ini dipandang sebagai jeda penting di tengah eskalasi sejak awal Maret, ketika Israel meningkatkan operasi dengan tujuan memukul Hizbullah.
Dalam laporan yang beredar di media Indonesia, serangan Israel di Lebanon sejak 2 Maret disebut telah menewaskan 2.294 orang dan melukai 7.544 lainnya. Setelah pengumuman gencatan senjata, ratusan warga di Beirut dilaporkan turun ke jalan untuk merayakan jeda kekerasan, meski durasinya terbatas.
Langkah berikutnya adalah perundingan tahap kedua yang dijadwalkan kembali digelar di AS pada 23 April waktu setempat, atau 24 April waktu Indonesia. Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS, dikutip Al Jazeera pada 20 April, menyatakan Washington menyambut keterlibatan yang dimulai 14 April dan akan terus memfasilitasi diskusi langsung “dengan itikad baik” antara kedua pemerintah.
Pelucutan senjata di Litani, klaim “rearmament”, dan risiko runtuhnya jeda perang
Di sisi Lebanon, militer Lebanon menyatakan telah melucuti senjata Hizbullah di kawasan Sungai Litani sebagai tahap pertama rencana nasional untuk membongkar fasilitas persenjataan di perbatasan, sejalan dengan kerangka gencatan senjata. Bagi Beirut, ini menjadi sinyal bahwa negara berupaya mengambil alih kontrol keamanan di wilayah selatan.
Namun Israel menilai langkah tersebut belum memadai. Mengacu pada pemberitaan Le Monde yang dikutip media regional, kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut pihaknya menemukan upaya Hizbullah untuk kembali menghimpun senjata dan membangun lagi infrastruktur militer, sebuah klaim yang dipakai untuk membenarkan serangan ke Kfar Hatta dan lokasi lain.
Di titik inilah negosiasi menjadi krusial: tanpa mekanisme verifikasi dan penegakan yang efektif, setiap serangan—atau tuduhan serangan—mudah berubah menjadi alasan untuk memperluas operasi di Lebanon selatan, menempatkan keamanan kawasan kembali di tepi jurang eskalasi.





