Sulawesi Utara kembali dilanda bahaya alam ketika Gunung Ruang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik yang memicu erupsi dan mendorong ribuan warga untuk mengungsi. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), status gunung api itu dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak 16 April 2024 pukul 16.00 WITA, setelah pemantauan visual dan instrumental menunjukkan eskalasi yang signifikan. Dampaknya cepat terasa di Pulau Ruang dan Tagulandang, memaksa otoritas memperluas evakuasi serta menetapkan masa tanggap darurat.
BNPB tetapkan siaga dan dorong evakuasi warga Tagulandang setelah erupsi Gunung Ruang
BNPB menyebut erupsi terjadi pada malam 16 April 2024 dengan area terdampak antara lain Desa Pumpente dan Desa Patologi di Kecamatan Tagulandang. Dalam perkembangan berikutnya, letusan susulan dilaporkan pada 17 April 2024 dini hari, disertai hujan abu vulkanik menurut laporan BPBD setempat. Di lapangan, gangguan juga muncul pada jaringan komunikasi, termasuk sinyal yang sempat terputus di Kampung Laingpatehi, situasi yang membuat koordinasi awal menjadi lebih menantang.
Dari hasil pendataan awal BNPB, sedikitnya 272 kepala keluarga atau 828 jiwa harus meninggalkan rumah. Sebagian ditampung di fasilitas publik seperti Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Tagulandang, sementara ratusan lainnya tinggal sementara di rumah kerabat di daratan Pulau Tagulandang. Sejumlah titik pengungsian yang digunakan meliputi Gereja GMIST Nazareth Bahoi, Balai Latihan Kerja Bahoi, GOR Tagulandang, hingga BPU, dengan opsi perluasan ke rumah ibadah lain bila dampak meluas.
Untuk gambaran lebih lengkap mengenai rangkaian peristiwa dan respons awal di wilayah terdampak, laporan lapangan juga dihimpun oleh media lokal melalui pemberitaan erupsi Gunung Ruang di Sulawesi Utara. Di tengah dinamika itu, satu hal menjadi jelas: kecepatan pemindahan warga sangat menentukan, karena karakter letusan gunung berapi bisa berubah dalam hitungan jam.
PVMBG: ratusan gempa mendahului letusan, rekomendasi radius aman dan pemantauan MAGMA
Dari sisi pengamatan gunung api, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat adanya peningkatan kegempaan sebelum peristiwa letusan. Kepala PVMBG Hendra Gunawan memaparkan bahwa pada periode 1–15 April 2024 terjadi ratusan aktivitas seismik, termasuk 20 gempa vulkanik dalam, 3 gempa tektonik lokal, dan 163 gempa tektonik jauh. Dalam 12 jam menjelang letusan, eskalasi lebih tajam terlihat dengan tercatat 198 kejadian gempa vulkanik dalam pada rentang 00.00–12.00 WITA 16 April 2024.
Pada 17 April 2024 pukul 01.08 WITA, erupsi terekam jelas di seismogram dengan amplitudo maksimum 55 mm dan durasi sekitar dua menit. Laporan PVMBG menyebut suara dentuman dan gemuruh masih terdengar ketika catatan dibuat, menegaskan bahwa fase aktivitas belum sepenuhnya mereda pada saat itu.
PVMBG mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat dan pengunjung tidak memasuki wilayah dalam radius 4 kilometer dari pusat kawah aktif saat status berada di Level III. Lembaga itu juga meminta warga tetap mengikuti informasi resmi, termasuk melalui aplikasi MAGMA Indonesia, untuk meminimalkan risiko akibat paparan abu dan potensi lontaran material pijar. Dalam konteks bencana alam, disiplin pada batas aman kerap menjadi pembeda antara evakuasi yang tertib dan kepanikan yang justru menambah korban.
Bagaimana informasi kegempaan ini diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan? Di sinilah koordinasi lintas lembaga—dari pemantauan hingga logistik—menjadi ujian berikutnya bagi sistem penanganan letusan gunung berapi di wilayah kepulauan.
Transportasi laut jadi kunci evakuasi ribuan pengungsi dan rencana relokasi pasca erupsi
Ketika jumlah pengungsi meningkat, tantangan geografis Sulawesi Utara—khususnya wilayah kepulauan—membuat jalur laut menjadi tulang punggung. Dalam rapat koordinasi penanganan bencana yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB pada 2 Mei 2024, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menekankan bahwa moda angkut laut dimaksimalkan agar proses pemindahan warga dapat dipercepat. Ia menyebut masih ada 5.719 orang yang perlu dievakuasi, dengan target penuntasan dalam tiga hari melalui pengerahan armada yang tersedia.
Sejumlah kapal pemerintah disebut digunakan, termasuk KRI Kakap 881, kapal Bea Cukai 663, serta Kapal Bima Sena Basarnas, dengan informasi bahwa KRI Teluk Lampung 540 juga dijadwalkan bergabung. Di luar armada negara, keterlibatan kapal swasta menjadi faktor penting: KMP Lohoraung dan KMP Marina Bay sudah terlibat, dengan rencana tambahan KMP Glory dan KMP Lokong Banua. Dalam situasi seperti ini, kemitraan operasional—tanpa menunggu prosedur panjang—sering kali menentukan seberapa cepat warga bisa keluar dari zona risiko.
Pemerintah daerah pun mengambil langkah administratif agar penanganan lintas wilayah lebih leluasa. Kabupaten Kepulauan Sitaro menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari pada 16–29 April 2024 dan kemudian memperpanjangnya untuk periode 30 April hingga 14 Mei 2024. BNPB juga mendorong kabupaten/kota penyangga yang menjadi lokasi pengungsian untuk menetapkan status siaga darurat agar akses pengerahan personel, peralatan, dan logistik lebih mudah.
Di saat yang sama, rencana jangka lebih panjang mulai dibicarakan. Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menyampaikan bahwa dua lokasi dipilih sebagai opsi relokasi bagi 834 warga dari Desa Laingpatehi dan Desa Pumpente yang terdampak paling parah, yakni di Likupang dan di Bolaang Mongondow Selatan yang berbatasan dengan Bolaang Mongondow Timur. Pertimbangan kedekatan dengan laut disebut penting agar mata pencaharian sebagai nelayan tetap memungkinkan, sebuah pendekatan yang sering dipakai dalam pemulihan pascabencana di wilayah pesisir.
Namun di atas semua rencana, satu pertanyaan tetap menggantung: seberapa cepat infrastruktur pemantauan yang rusak bisa dipulihkan? PVMBG menyatakan pentingnya pemasangan kembali alat pemantau di stasiun yang rusak pasca erupsi, karena kualitas deteksi kegempaan akan memengaruhi ketepatan peringatan dini—dan pada akhirnya, keselamatan warga yang masih berada di sekitar kawasan rawan.





